Suatu hari aku bertanya pada ibuku, “bu, boleh tidak jika aku bekerja di toko saja?” Kemudian ibuku menoleh ke arahku sambil mengerutkan dahinya seolah tak percaya. Karena ibuku selalu percaya, jika bekerja di toko adalah pilihan yang buruk dan tidak akan mampu membiayai kehidupan kami. Maka ibu selalu menyarankanku untuk bekerja di pabrik-pabrik besar, yang sudah pasti terjamin. Akan tetapi, ibuku tidak pernah berpikir bagaimana kerasnya jadi buruh itu. Sebab, yang dia yakini adalah kerja di pabrik bisa membuatmu “bahagia”.
Aku pun menuruti perintah ibuku. Sebab aku masih ingat kata ustaz waktu ngaji: surga ada di telapak kaki ibu, kalau ingin sukses ya bahagiakan ibumu. Dan jangan lupa bahwa ridho Allah terletak pada ridho ibumu. Jadi, jika ibumu tidak ridho maka Allah juga sama.
Tibalah di hari pertama aku bekerja, semua masih berjalan dengan semestinya. Aku berkenalan dengan teman-teman satu bagian. Mereka datang dari kota yang berbeda-beda. Aku masih ingat, mereka datang jauh-jauh kerja di sini itu untuk mengadu nasib. Sebab, UMR di daerah mereka sangat rendah.
Dalam satu produk, kita dipisahkan dalam berbagai bagian. Ada yang di pembuatan, pengemasan, sampai pengecekan. Semua dikerjakan bersama, tidak peduli laki-laki atau perempuan. Tidak ada pengecualian, bahkan untuk ibu hamil sekali pun. Paling hanya tidak boleh mengerjakan yang berat-berat dulu. Namun, apa yang bisa kita perbuat. Minta lebih juga dipecat, kalau tidak nurut ya dipecat, bahkan bisa dikatakan jadi buruh itu gampang-gampang susah. Asalkan nurut semuanya beres. Entah nurut yang seperti apa..
Seperti hari itu, ketika salah satu mesin rusak dan harus memanggil mekanik untuk membetulkannya. Aku yang memang ditugaskan untuk menimbang kala itu kerepotan, sebab banyak sekali yang tidak layak dikemas. Akhirnya aku mencoba patuh kepada peraturan yang ada dan malah mendapatkan teguran dari beberapa senior.
“Mbak, kalau kayak gini caranya enggak akan dapat hasil sesuai target. Mbak mau ya kalau gaji kita harus dipotong karena ini! Udah lolosin aja yang penting jangan sampai ketahuan!”
Aku menghela napas kasar dan mulai membatin. Membatin banyak hal, mempertanyakan banyak hal, terus berkata kenapa dan bagaimana. Sebab, di satu sisi ini melanggar aturan, tetapi di sisi lain omongan senior itu ada benarnya. Resah aku dibuatnya. Tak urung juga aku melakukan apa yang dikatakan seniorku. Meloloskan semuanya dan jika ada pengawas, menimbang dengan benar. Jangan dikira aku tidak takut melakukan itu. Aku takut sekali, tetapi apa yang bisa aku lakukan. Aku hanya anak baru yang ingin cari uang dan membahagiakan orangtua.
Kejadian seperti itu sering kali terjadi, tidak hanya sekali itu saja. Kadang kami, para buruh harus menganggur, lontang-lantung tanpa arah ketika mesin mulai rewel. Dan mekanik butuh waktu berjam-jam untuk memperbaikinya. Bahkan bisa jadi tidak bisa dibetulkan sama sekali. Dan harus menunggu seharian, kadang kami sampai diliburkan. Yang akhirnya gaji pun tidak sampai UMR. Kalau para senior mah enak, mereka bisa dipindahkan di bagian yang lain. Nah kalau aku yang anak baru ini diliburkan.
Ya begitulah lika-liku buruh pabrik. Kerjanya ya hanya nurut. Kalau enggak gitu ya kena marah. Kita harus banyak omong biar tidak dikata individualis. Ngomong enggak penting pun, ya tetap akan didengar. Gibah salah satunya, itu adalah hal yang sangat dinanti-nanti atau bisa jadi sangat dirindukan. Ini hanya pendapatku saja, karena aku merasa lingkungan pabrik tidak cocok untukku.
Aku adalah seorang yang tidak begitu menyukai keramaian dan tidak juga kesenyapan. Cukup sedikit orang. Aku lebih nyaman berada di perpustakan ketimbang di tempat bermain. Aku lebih suka di rumah dari pada harus ke pantai. Aku pun lebih suka sedikit bicara, tetapi ada gunanya dari pada banyak omong, tetapi kosong. Iya, aku serumit itu jika kalian berpikiran begitu. Akan tetapi, aku memang lebih nyaman seperti itu. Faktor yang mendasarinya adalah aku memang tidak pandai bergaul.
Kemudian, menjelang tengah malam. Aku telah berpakaian rapi. Aku menunggu jemputan di teras rumah. Malam itu adalah pertama kalinya aku dijadwalkan shift malam. Tidak lama kemudian jumputanku datang. Aku kembali ke dalam untuk berpamitan. Setelah itu aku menghampirinya dan mengambil helm yang disodorkannya, kemudian memakainya. Aku menaiki jok motornya dan kami segera berangkat. Dan aku baru sadar jika udara pada malam hari sedingin ini. Padahal aku sudah menggenakan jaket, tetapi sepertinya tidak memberi efek hangat.
Sesampainya di pabrik semuanya masih terlihat baik-baik saja, sepertinya. Aku hanya tidak merasa yakin saja, sebab kepalaku mulai berputar. Aku tak mengindahkannya dan memakai atribut kerja untuk menghindari dari kecelakaan kerja. Aku memasuki tempat kerjaku dan bertemu teman-temanku. Beberapa jam kemudian, aku merasa perutku tidak enak. Aku ingin muntah, tetapi tidak bisa. Rasanya perut ini seperti dikocok tanpa henti. Bahkan bau produk pun membuatku mual. Sampai temanku bertanya apakah aku tengah sakit, sebab wajahku pucat. Aku pun menggeleng, tetapi kemudian aku merasa ada sesuatu yang ingin keluar. Akhirnya aku izin untuk ke kamar mandi.
Aku berlari, tak mengindahkan orang-orang yang menyapaku. Sialan, baru pertama kali aku shift malam sudah begini. Aku merutuki diriku. Sesampainya di kamar mandi, semua yang ada di perutku keluar tanpa henti. Dari mulut, hidung, bahkan tenggorokanku sampai sakit, dan air mataku tanpa sengaja keluar. Segininya, aku tak pernah berpikir ini akan terjadi. Lemas. Aku tidak kuat berjalan. Dan ketika aku keluar dari kamar mandi, kulihat Kepala Bagianku sudah menunggu.
“Kamu sakit?” Terdengar dari nada bicaranya, dia terlihat cemas sekali.
“Saya tadi muntah–” belum selesai aku mengutarakannya perutku mual lagi dan aku langsung masuk kamar mandi lagi. Dan muntah lagi.
“Saya panggilkan ambulans ya, supaya ngangkut kamu untuk ke klinik. Kamu tunggu di sini sebentar, sekalian saya mau urus surat izin kamu dulu.” Aku hanya mengangguk tanpa menoleh ke arahnya.
Sungguh aku kacau sekali. Lemas. Hanya itu. Setelah aku rasa semua isi perutku keluar, aku pun keluar dari kamar mandi dan terduduk di lantai sambil menunggu ambulans. Aku tidak kuat berdiri rasanya. Beberapa menit kemudian, Kepala Bagianku datang lagi. Rupanya ambulans sudah datang dan siap mengangkutku.
“O iya, besok kamu enggak usah kerja dulu. Saya juga sudah ngizinkan kamu. Nanti kalau masih kurang sehat minta dijemput ya. Oke, saya harus balik kerja dulu. Kamu baik-baik ya..” Tak kuasa untuk menjawab, aku hanya mengangguk-angguk saja. Setelah menitipkanku pada sopir ambulans, Kepala Bagianku pun kembali pada tugasnya.
Aku memilih meliburkan diri sampai tubuhku benar-benar pulih. Aku pun mengakatakan hal yang sama kepada ibuku, jika aku muntah-muntah di tempat kerja. Dan ibuku hanya menyarankan untuk meminum obat masuk angin dan mengeroki punggungku. Ternyata ekspektasiku terlalu tinggi.
Berminggu-minggu kemudian, setiap kali shift malam, aku benar-benar ambruk tak berdaya. Lemas. Puncaknya pada pertengahan kontrak kerjaku. Saat itu aku tengah berada di rumah temanku, aku sengaja di sana semenjak sore. Pasalnya aku memang hendak nebeng dengannya saja. Orang yang biasa menjemputku sedang di luar kota.
Sungguh, malam ini aku malas sekali bekerja. Lebih malas dari malam-malam sebelumnya. Rasanya aku ingin tidur saja dan melewatkan kerjaku sampai pagi. Aku merasakan wajahku memanas, seperti saat doi menyetakan perasaannya. Akan tetapi, ini lebih mendebarkan dan sangat tidak enak. Temanku melihat gelagatku yang aneh dan segera menghampiriku. Tanpa diminta dia langsung memegang keningku dan terkaget. Dia berkata sambil teriak, malah lebih terkesan marah. Katanya, badanku panas sekali. Dia pun mengambil gawainya dan pergi ke luar. Seperti mencoba menghubungi seseorang.
Selepas kepergian temanku, aku kembali meringkuk di atas kasur. Perlahan memejamkan mata dan tertidur. Beberapa menit kemudian, kurasa, temanku menggoyangkan tubuhku perlahan sampai aku membuka mata. Sorot matanya menandakan kekhawatiran mendalam. Apakah dia kasihan kepadaku? Ah bodo amatlah, saking lemasnya aku tidak mau memikirkan hal tersebut. Pernyataannya membuatku senang, aku disuruh libur dulu sampai kondisiku benar-benar memungkinkan untuk bekerja. Aku sih iya-iya saja dan kembali tertidur, tetapi sebelum itu dia menyuruhku untuk minum obat.
Keesokan harinya ketika dia pulang kerja. Dan keadaanku sudah agak lebih baik dari kemarin. Dia mengantarkanku pulang. Aku mengatakan hal yang sama kepada ibuku, setiap kali shift malam, jika aku sakit. Dan ibuku selalu berkata sama, bahwa aku sedang masuk angin. Dikasih tolak angin saja pasti akan sembuh. Lagi-lagi ekspektasiku terlalu tinggi.
Sudah tiga bulan aku bekerja dan hari ini adalah keputusannya, apakah aku akan dibutuhkan lagi atau tidak. Aku dan teman-teman menunggu dengan miris di depan ruangan HRD. Bagaimana ini.. Aku memainkan tanganku dengan gusar, bahkan mondar-mandir tak tentu arah. Dan ketika namaku terpanggil, aku langsung masuk ke dalam. Duduk di kursi yang sudah disediakan.
Pernyataan HRD membuatku tercengang, membisu, aku tidak tahu harus bagaimana. Seketika itu juga aku lemas. Aku kembali menyalahkan ekspektasiku yang terlalu tinggi. Lalu dia menyodorkan sebuah kertas, yang bagian atas sendiri bertuliskan “perpanjangan kontrak kerja” dengan sangat jelas. Aku menghela napas, aku sudah bertekad. Aku mengembalikan surat pernyataan itu tanpa membubuhkan tanda tanganku. Menggeleng pelan seraya berkata, “maaf saya tidak bisa..” dan menyebutkan pelbagai alasan sebagai penguat. Tampak di wajah sang HRD teramat kecewa mendengar keputusanku. Dengan sangat terpaksa dia tersenyum, menjabat tanganku, dan mengangguk setuju.
Teman-temanku ternyata sudah menunggu di tempat yang sama. Mereka menungguku bicara. Dan aku mengatakan jika aku sudah tidak bisa melanjutkannya lagi. Dari wajah mereka bisa kupastikan, bahwa mereka sangat kecewa. Menyayangkan hal demikian. Tidak sepertiku yang sangat puas. Selang beberapa bulan, setelah keputusanku. Aku mendengar kabar dari teman-temanku yang terpilih untuk melanjutkan kontrak. Katanya, posisi mereka terancam, sebab akan dipekerjakan mesin robot. Dan teman-temanku yang hanya lulusan SMA, terpaksa harus dirumahkan.
Sementara aku di sini, sudah bekerja. Ya walaupun hanya menjaga stand makanan, tetapi aku sangat menikmatinya. Lebih dari apa yang aku pikirkan, kalau bicara gaji memang jauh dari apa yang aku dapatkan selama bekerja di pabrik. Walaupun demikian, menjaga stand tidak banyak tekanan dan yang terpenting, tidak banyak orang. Paling hanya saat pembeli mulai membludak di akhir pekan. Saat-saat itulah aku harus bekerja ekstra, kalau tidak pasti akan dapat masalah. Setidaknya aku tidak harus kerja shift malam.
Dan ibuku, terus saja memintaku untuk mencari pekerjaan yang lebih layak lagi. Katanya, menjaga stand tidak membuatku bahagia. Hidup dengan serba kekurangan, karena gaji juga pas-pasan, hanya bisa memenuhi kebutuhanku saja. Padahal setiap kali gajian, ibuku selalu kujatah. Tak pernah absen. Iya sih, kalau dipikir-pikir memang sedikit sekali gajiku. Awalnya aku juga kaget, menerima gaji yang jauh di bawah dibandingkan gajiku kala di pabrik. Akan tetapi, lama-kelamaan aku pun terbiasa dan aku berharap ibuku juga akan terbiasa.
Syahdan, sebetulnya sebelum bekerja di stand, aku sempat ditawari teman sekolahku untuk melamar di tempat kerjanya. Berkali-kali pun ibuku melarang dengan pelbagai alasan yang aku tak mengerti. Karena ibu sangat yakin, aku bahagia jika bekerja di pabrik dan mendapatkan banyak uang. Namun, ibuku melupakan satu hal, untuk apa punya banyak uang jika sakit-sakitan. Namun sepertinya, ibuku tidak memahami hal seperti itu. Dan jikalau ibuku tetap seperti itu, memaksaku untuk bekerja di pabrik. Maka, aku juga akan tetap seperti ini, tidak mau melamar ke tempat lain. Biarlah gajiku pas-pasan, setidaknya itu mengajarkanku untuk tidak boros. Bukankah, setiap kejadian selalu ada hikmahnya?