Inilah Cerita Ibuku

Januari 2021

Aku tidak tahu mengapa, sekarang di setiap pagi kita selalu berkumpul di ruang makan. Membicarakan banyak hal. Ada kalanya topik yang kita angkat hari itu sedikit tidak jelas. Atau sesuatu yang dapat menggemakan tawa di sepanjang sudut ruangan. Atau, seperti pagi ini, kami membicarakan sesuatu yang menjijikkan, tetapi berkhasiat. Tidak masuk akal bukan? Namun, aku baru sadar, jikalau hal sederhana itu dapat merekatkan hubungan kami. Sesama anggota keluarga yang dahulunya jarang bertemu.

Bicara perihal penyakit dap. Kata Ibuku, dulu, ketika seseorang terkena penyakit dap atau herpes, maka obatnya adalah semburan air kelapa yang dicampur gula dari orang yang (dianggap) nakal. Semacam jampi-jampi dari mbah dukun. Tidak masuk akal bukan? Tetapi toh, katanya obat itu sangat mujarab.

Hal itu terjadi pada Bapakku. Katanya, dia dulu juga seperti itu. Ada semacam cacar di sekitaran perutnya, tetapi itu bukan cacar, melainkan penyakit dap. Dan Bapakku bilang, rasanya sangat panas bercampur gatal dan celekit-celekit ketika diberi obat. Namun, lain halnya ketika dia minta tolong pada tetangganya yang nakal. Dan katanya ketika selesai disembur menggunakan campuran air kelapa dan gula, penyakitnya langsung sembuh.

Konyol sekali. Ketika mendengarnya pagi itu. Aku terbahak. Tidak aku sangka jikalau dulu ketika orang tuaku masih muda ada pengobatan macam itu. Dan, jangan lupa jikalau sangat mujarab. Tidak ada tandingannya, mungkin. Apalagi, harus dengan bantuan orang nakal. Sangat tidak masuk akal.

Syahdan, jikalau dibandingkan pengobatan zaman dulu dengan sekarang, banyak perbedaannya. Dulu, jarang sekali ada dokter, jikalau ada pun sangat jarang dan tempatnya pasti tidak mudah dijangkau. Perihal obat juga begitu. Kata ibuku, pengobatan dahulu itu, walaupun terbilang aneh, tetapi sangat manjur. Dan lagi, tidak ada kata “jijik” walaupun sumbernya memang (agak) menjijikkan.

Ibuku juga bilang, sekarang penyakit dap sudah ada salepnya. Lalu, sudah ada dokter yang bisa menanganinya. Puskesmas buka 24 jam, pun lokasinya juga tidak jauh. Fasilitasnya pun sangat berbeda dengan dulu. Lebih lengkap, katanya. Lebih mudahlah, tetapi ibuku juga heran … perihal kenapa banyak orang sekarang yang menyia-nyiakan hal itu. Maksudnya, kenapa orang-orang masih saja kurang dengan fasilitas yang sudah memadai. Bukankah dengan berkembangnya zaman, maka hidup pun lebih mudah?

Namun, di lain sisi, ibuku pun mengerti. Bisa jadi anak muda sekarang itu tidak mengenal identitas dirinya. Tidak mengenal bagaimana susahnya orang dulu menjalani hidupnya. Dari cerita ibuku, dulu ketika dia menginginkan sesuatu, dia harus bisa menghasilkan sesuatu terlebih dahulu. Untuk dijual agar dapat uang dan bisa dipakai untuk beli yang diinginkan. Akan tetapi, walaupun hidupnya susah. Dia tidak pernah mengeluh sedikit pun. Katanya, dia senang melakukan hal itu, tersebab bisa mendapatkan pengalaman baru dan dapat berkumpul dengan kawan-kawannya.

Ibuku pernah bilang, “walaupun dulu hidup serba terbatas, tetapi sangat menyenangkan. Karena masih bisa makan tebu hasil panenan sendiri. Dan mengumpulkan tebu-tebu kering untuk dijual”.

Berawal Dari Buku Harian Sampai ke Fiksi

Bagaimana sih awal kalian memutuskan untuk mulai membiasakan diri menulis?

Kalau aku, mulai menulis semenjak kelas enam SD. Awalnya hanya menulis di bagian belakang buku tulis. Dan itu pun hanya terdiri dari beberapa kata atau hanya satu sampai dua kalimat. Misalnya, “hari ini hujan” atau “aku bingung mau ngomong apa. Teman-teman terus memojokkanku karena aku keceplosan bilang suka pada cowok itu”. Atau hanya sekadar tulisan indah-indah tanpa ada arti yang jelas. Biasanya juga hanya iseng menulis nama teman-temanku dan meminta tanda tangan mereka. Selama itu, aku tidak pernah menulis detail yang lengkap.

Sampai ketika aku mulai menginjak SMP. Malam itu, seperti biasanya, temanku menjemputku untuk bermain maling-malingan. Sambil menunggu yang lainnya hadir, temanku bercerita, jika dia mulai menulis diary. Kata itu asing di telingaku. Aku pun bertanya dan dia mengajakku mampir ke rumahnya, guna memperlihatkan diary tersebut. Aku pun meminta izin untuk membacanya. Awalnya dia menolak, tetapi dengan sedikit rayuan dia pun luluh. Temanku mengizinkan untukku membaca diary-nya.

Perlahan aku pun membuka buku itu, dan… “lho isinya kok Donghae semua?!” Kaget banget aku. Di sana dia bilang kalau suatu saat nanti bakalan nikah sama Donghae. Fyi, karena dulu kami sama-sama suka K-Pop. Jadi, hal seperti itu sudah biasa terjadi. Dan dia juga membuat semacam cerita fiksi yang tokohnya dia dan Donghae. Aku pun tidak bisa menahan tawaku, dan saat itu juga dia mengambil diary-nya dari tanganku. Kemudian langsung menyeretku keluar rumahnya.

Semenjak kejadian itu, aku jadi punya keinginan untuk nulis diary juga. Awalnya aku nulis di note gawai. Btw, aku itu sebenarnya bukan pencerita yang baik. Jadi, aku hanya menuliskan apa yang ada di kepalaku dengan singkat, padat, dan jelas. Tidak bertele-tele pun tidak berindah-indah. Kejadian naas pun terjadi, entah bagaimana bisa gawaiku tiba-tiba terformat. Semua data hilang, dari mulai foto, lagu, bahkan diary yang baru aku tulis dalam waktu seminggu itu lenyap tak bersisa.

Nyesek banget rasanya, sesuatu yang aku tulis sampai mumet, hilang tanpa kuminta. Kemudian dari kejadian itu, aku beralih memakai buku tulis. Aku menulis diary tepat di tengah-tengah buku hingga ke belakang. Dan ternyata menulis di buku itu lebih menyenangkan. Lebih bebas rasanya. Di sana, aku bisa menuangkan segala keluh kesah bahkan sampai kejadian konyol. Rasanya, aku dapat menjiwai setiap tulisanku. Dari situ, aku mulai ketagihan menulis.

Setiap hari, setiap malamnya, setiap pulang dari bermain, setiap sebelum tidur, aku menulis. Menulis apa yang telah aku lalui selama satu hari penuh. Di saat sekolah, saat mengaji, saat bermain, dan yang lainnya. Aku jadi merasa punya teman yang asyik. Teman yang siap mendengarkan ceritamu sampai tuntas. Tidak berkomentar dan terus mendengarkan. Aku pun mulai nyaman menulis. Aku ketagihan.

Sampai suatu hari, aku tidak tahu mengapa Kakakku terus menggodaku dari pagi. Mengucapkan kalimat-kalimat yang aku tuangkan dalam buku harianku. Mengulang-ulang kalimat itu dengan cara-cara yang menjijikkan (baca: lebay). Ternyata tanpa sepengetahuanku, diary itu terbaca olehnya. Katanya sih, dia mau minta sobekan kertas dan enggak sengaja ketemunya sama buku itu. Setelah dibuka, dia kaget ternyata ada tulisannya, tetapi kemudian dia baca juga isi tulisan itu.

Semenjak kejadian itu, aku pun memutuskan untuk membeli diary yang ada gemboknya. Sungguh, kesal campur malu sebetulnya jika rahasia hidupku sampai terumbar seperti itu. Sebab, dalam diary itu tidak hanya tertuang kegiatan-kegiatanku dari pagi sampai petang. Melainkan ada juga ketika aku mulai jatuh cinta, meraih sesuatu, sebal dengan seseorang, membenci seseorang, mengirikan seseorang,  dan sebagainya. Semua keluh kesah, bahagiaku, sampai hal-hal paling konyol yang pernah aku lalukan tertuang dalam buku itu.

Dari situ, seandainya ada yang bertanya “kenapa aku menulis”, itu sederhana saja. Sebab, aku tidak ingin lupa. Aku tidak mau melupakan semua kenangan ketika aku masih sekolah bersama teman-teman. Soalnya, menurutku masa anak-anak sampai remaja itu takkan pernah bisa terulang. Zamanku dan zaman ketika adikku SD saja tidak sama dan itu terasa sekali perbedaannya.

Dan lagi, ini yang paling penting sih. Sadar atau tidaknya kita, kejadian di masa lalu itu bisa saja terjadi lagi sekarang. Tanpa kita minta. Tanpa kita mau. Dan jikalau kita tidak mau mengulangi hal yang sama, maka buku harian punya peran penting di sini. Dengan membaca ulang kembali buku itu, kita jadi tahu apa yang mesti dilakukan. Untuk memperkecil kemungkinan kita kecewa pada pilihan-pilihan kita. Terkadang malah, kita bisa sedikit memperbaikinya.

Bukankah belajar dari sajarah itu tidaklah salah?

Anggap saja menulis diary adalah pelatihan untuk merangkum sejarah kehidupan kita. Memulai dari yang sederhana lebih menyenangkan, daripada dari yang besar, tetapi terasa membosankan. Percaya atau tidak, kadang aku suka terinspirasi dari kejadian di masa lalu itu untuk membuat sebuah cerpen atau bahkan cerita yang lebih panjang.

Jadi, bagaimana denganmu? Apakah kamu sudah menemukan cerita seru ketika menulis? Sesuatu yang belum pernah kamu rasakan sebelumnya.

“Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Catatan Pringadi Bekerja Sama Dengan Tempo Institute”

Sebuah Kebenaran Atau Hanya Sekadar Alasan?

Lama tidak menulis, rasanya susah sekali untuk bisa merangkai kata kembali. Ya, beberapa waktu lalu, aku memang berada pada sebuah kebimbangan. Mempertanyakan segala hal yang sedang atau akan aku kerjakan. Salah satunya menulis. Alih-alih menuangkan ide yang ada di kepala, yang kulakukan malah memikirkan “kenapa aku menulis?” dan “untuk apa aku menulis?” serta “apakah tulisan ini akan ada manfaatnya atau malah sebaliknya?”.

Haha. Sebab ada ketakutan-ketakutan yang secara mendadak muncul di benakku. Dan berhasil menggoyahkan keyakinanku pada saat itu. Alhasil, aku memilih untuk rehat–menghilang tanpa bilang–sebentar. Semuanya pun terbengkalai, timbunan chat menumpuk sampai ribuan, dan pertanyaan-pertanyaan itu muncul dengan sendirinya. Lagi dan lagi. Aku betul-betul tidak tahu apa yang sebaiknya kulakukan. Selain hanya menjadi penghuni gelap untuk sementara waktu.

Akan tetapi, masa iya begini terus.
Sampai akhirnya, suatu hari ada challenge untuk membuat satu cerpen. Aku paksa diriku untuk ikut. Susah? Iya, susah banget. Aku pun mencoba mulai nulis kembali. Hanya beberapa paragraf, itu pun ketik hapus-ketik hapus terus. Aku merasa tidak yakin. Insecure, bingung, bimbang tidak keruan dengan tulisanku sendiri. Sampai-sampai aku tinggalkan begitu saja cerita tersebut.

Aku pun mengalihkan pikiranku ke hal lainnya. Mulai dari mendengarkan lagu, menyanyi, menonton video di Instagram pun di Youtube atau hanya sekadar membaca buku. Kadang juga iseng membaca story teman-teman di WattsApp, dan sesekali membalasnya.

Dalam pengalihan itu, aku menemukan satu pokok pembahasan yang pas banget dengan cerpenku tadi. Aku gali lebih dalam informasi yang ada. Aku ikutin dan baca setiap postingannya. Akhirnya dari sana, aku mulai menemukan titik terang. Dan masalah baru kemudian datang. Tulisan yang tadi aku biarkan itu, dari segi penceritaan agak ambigu jika aku baca ulang. Akhirnya dari pada merombak semua cerita, aku pun memilih membuat cerita baru. Dari awal.

Pada saat itu pun, aku banyak sekali menuai kesulitan. Alasannya masih sama, perihal bagaimana merangkai kata menjadi kalimat, kalimat menjadi paragraf, paragraf menjadi sebuah cerita utuh. Bahkan, awalnya aku hanya bisa menulis satu adegan pertama saja. Dan yang lainnya tidak tahu harus dibagaimanakan. Akhirnya aku tinggal lagi tulisan tersebut.

Tanpa terasa, hari mendekati deadline pun tiba. Sedari pagi aku udah memikirkan bagaimana caranya satu cerita ini selesai. Aku buka kembali note-ku, membaca ulang sedikit tulisan itu, memahaminya, mulai mengetik, menghapusnya, menutup note itu kembali, dan terus begitu berulang-ulang. Sampai ketika malam tiba, aku diyakinkan temanku “untuk mulai saja dulu”. Dan ya, ternyata berhasil. Dengan pemerasan otak yang tiba-tiba itu aku perlahan mulai bisa bercerita. Menuangkan segala yang berkecamuk di otak selama ini. Sampai akhirnya tuntas dan kirim. Alhamdulillah

Setelah kejadian itu, aku pun mencari tahu penyebab hilangnya gairah dalam menulis. Dugaanku sih karena banyak informasi yang masuk dengan istilah-istilah baru. Yang sesungguhnya aku sudah tahu tentang hal itu. Contoh, outline. Nah, sebetulnya dari dulu kalau mau nulis novel, ya pakai outline. Cuman karena enggak tahu istilahnya, jadi kelihatan asing. Dan muncullah pertanyaan-pertanyaan aneh itu, seolah ada yang terus membisikkan untuk jangan menulis. Karena dulu aku pakai mainmap atau cuman sekadar tulis rangkuman dari cerita bab satu, bab dua, bab tiga, bab empat, dan seterusnya.

Contohnya lagi, pesan moral. Ada yang bilang kalau setiap cerita itu harus ada pesan moralnya. Padahal kenyataannya sebuah cerita itu punya kebebasannya sendiri. Dalam sebuah diskusi di salah satu grup kepenulisan yang dimaksud “pesan” ini luas artinya. Enggak hanya pesan moral. Sebenarnya banyak kok cerita-cerita yang kalau dilihat sekilas enggak ada pesan moralnya. Atau emang penulis enggak pernah berniat membuatnya. Akan tetapi nih ya, sepengetahuanku, pesan moral ini dapat tercipta jika pembaca dan tokoh dalam cerita tersebut punya konflik yang sama. Jadi dia bisa dapat solusi dari sumber yang enggak terduga sebelumnya. Nah, ini yang dianggap pesan moral dalam cerita.

Dari cerita di atas dapat disimpulkan jika, mumetku itu ya, kubuat sendiri. Bingungku pun aku buat sendiri. Njlimetnya susunan cerita atau rangkaian cerita itu juga aku buat-buat. Dan perihal pesan moral, aku bahkan banyak nemuin cerita yang enggak ada pesan moralnya, tapi masih bisa dapat “pesannya” atau tujuannya. Walaupun secara tersirat. Dan semua alasan-alasan itu, pada dasarnya cuman alibi buat menutupi kemalasanku dan ketidak-mood-anku untuk menulis. Pun lebih banyak membaca. Wkwk.

Astagfirullah… tidak untuk ditiru ya, gaes. Haha. Btw, kalian pernah mengalami hal yang serupa?

Cerita Puasa Pada Hari Kedua

Oke, mungkin pernyataanku kemarin benar menurut psikologi. Perihal menjadi orang tua yang baik itu tidak ada sekolahnya. Akan tetapi, pernah enggak sih kalian memikirkan tentang sudah telanjurnya luka yang tergores di hati. Dan susah sekali untuk membuatnya pulih kembali. Kembali menerima keadaan yang sudah atau sedang terjadi.

Bagi sebagian orang, hal itu mungkin agak lebay untuk dipikirkan. Namun, tidak dengan orang yang sepertiku. Belajar menerima. Belajar ikhlas. Itulah yang selama ini kudengar. Para ahli mengatakan, bahwa mereka memahami apa yang aku rasakan. Akan tetapi, tidak untuk merasakan hal yang sama. Kadang aku berpikir untuk menyudahi saja semua ini, toh tidak ada untungnya. Namun, satu hal yang berhasil mengurungkan niatku adalah bahwa Tuhan akan membenciku, setelahnya.

Sore itu, ketika aku dan kakakku ada di teras rumah. Tepat ketika azan magrib berkumandang, ada gadis kecil berdiri di depan rumah kami. Dia sedang menunggu temannya untuk pergi ke masjid bersama. Guna menunaikan ibadah solat. Entah asalnya dari mana tiba-tiba kakakku berkata, “saat seusia mereka (menjelang SD) aku tidak pernah solat”.

“Aku solat, tapi hanya magrib. Itu pun kelas enam.” Kataku menertawakan kehidupanku.

“Mereka tidak mengajarkannya. Dan aku tidak ingin anakku malas solat sepertiku.” Tatapan kesenduhan terpancar di mata kakakku ketika melihat dua gadis kecil yang kian berlalu.

Aku langsung menoleh ke arahnya, sebuah ingatan muncul begitu saja. Dulu ketika nenekku masih hidup, aku suka sekali tidur di rumahnya. Pada setiap malamnya menjelang tidur, nenekku menyempatkan untuk menunaikan solat. Dan tanpa aku tahu apa itu, bagaimana aturannya, aku pun mengikuti setiap gerakan dengan asal. Tanpa menggunakan mukenah dan tanpa berwudu. Bahkan ketika itu, aku tidak tahu apa sih gunanya berwudu sebelum solat. Untuk apa aku melakukan itu.

Akhirnya rasa keingintahuan itu terjawab saat ujian praktek berlangsung. Ketika aku menginjakkan kaki di kelas enam semester akhir. Aku baru tahu jika ada yang namanya bacaan solat, hal apa saja yang membatalkannya, untuk apa berwudu, dan bagaimana pula doa serta apa yang membuatnya batal. Sungguh, aku baru tahu saat itu. Telat, ya? Memang. Karena aku tidak punya pilihan lain selain menerima, bukan?

Apakah aku mengaji? Iya, aku mengaji saat aku memasuki TK B. Kala itu ibuku menitipkanku pada keponakannya. Akhirnya aku pun mengaji, dengan atau tanpa membaca Iqro’. Yang terpenting aku ikut mengaji. Begitulah. Lantas, kenapa aku sampai buta akan solat? Sederhana, orang tuaku tidak pernah mengajarkannya. Orang tuaku tidak pernah mengatakan jika solat itu wajib–ketika aku masih kecil. Karena mereka percaya aku akan tahu dari tempatku mengaji dan disaat sekolah. Tanpa mereka campur tangan. Padahal yang kutahu, rumah adalah pendidikan utama bagi seorang anak.

Hal itu terus berlangsung sampai aku lulus SMK atau bahkan sampai sekarang. Aku belum menjadikan solat sebagai kebutuhan. Padahal aku sudah tahu jika solat itu penting dan hukumnya wajib. Bahkan Nabi sendiri mengatakan, pada hari kiamat, alaman pertama yang dihisab adalah solat. Jika dia baik beruntunglah orang tersebut dan kalau buruk, maka rugi dan binasalah dia.

Lantas, kenapa masih seperti ini? Oke, mungkin ini terdengar seperti pembelaan pribadi. Akan tetapi, membiasakan hal tersebut saat sudah dewasa itu bukan perkara mudah. Bukan berarti aku tidak pernah berusaha. Aku berusaha dan terus berusaha. Mencoba membuat hal itu tidak terkesan membosankan untukku. Bahkan aku membuat progresku sendiri di setiap bulannya. Walaupun tak dapat dipungkiri jika belum berjalan sempurna. Namun, ini lebih baik daripada aku tidak berusaha sama sekali.

Suatu hari ketika aku mulai lelah akan keadaan ini. Seseorang membuatku berjanji untuk tidak sedikit pun meniru orang tuaku. Baik dari segi perilaku, cara mendidik, dan lainnya. Aku pun setuju, karena memang sedari awal aku tidak suka pada mereka. Silakan anggap aku salah! Tidak masalah. Karena begitulah adanya. Dan sebetulnya, alasan utama dari mengapa aku menyetujui perjanjian tersebut adalah, kelak ketika sudah menikah dan mempunyai anak, aku tidak ingin mereka jauh dari Tuhannya. Serta jauh dari orang tuanya.

Jadi, kesimpulannya adalah meremehkan pendidikan dasar anak itu tidak sepatutnya dilakukan. Sebab, kita tidak akan pernah tahu apa yang terjadi di masa depan. Ketika anak itu sudah tumbuh dewasa dan sulit sekali untuk dikontrol. Bukankah setiap orang tua menginginkan yang terbaik untuk anaknya?

Tunggu apa lagi, jangan main perintah. Jika mempraktekkannya saja kita enggan. Sebab, itu juga terjadi padaku. Saat aku masih sekolah bahkan sampai sekarang, orang tuaku masih suka main perintah, tetapi nol prakter. Dan apa yang terjadi.. aku membelok, tidak mau mendengarkan, tidak mau mempedulikan. Semakin aku tak acuh. Semakin mereka memerintah. Dan semakin mereka marah. Dan aku pun semakin tidak mengindahkannya.

O iya, salah satu hadis yang aku dapatkan hari ini:

Dalam sabda Nabi yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr bin Ash ra.
“Perintahkan anak-anak kalian ketika mereka berumur tujuh tahun dan pukul mereka jika tidak mengerjakannya ketika berumur sepuluh tahun, serta pisahkan tempat tidur mereka.”

Dalam hal ini, hadis tersebut menjelaskan tentang orang tua agar memerintahkan anaknya solat sekaligus memperkenalkan, menekankan gerakan solat dan bacaannya. Serta mengajaknya dan mengajarkannya. Ketika mereka sudah bisa membedakan mana kiri dan kanan. Sebab di umur tujuh tahun, dia sudah menggunakan akalnya karena Allah. Sudah bisa membela dirinya, menghadapi kesusahan hidup, sudah memiliki pertimbangan. Pukul mereka jika tidak mengajarkannya (solat) saat berumur sepuluh tahun. Dengan pukulan yang tidak berbekas, tidak dengan amarah, melainkan melakukannya dengan kasih sayang. Dengan menggunakan ujung jari atau kayu siwak. Serta pisahkan tempat tidur mereka. Walaupun sebelumnya mereka tidur dengan saudaranya sendiri.

Adapun solat bisa dipandang dari berbagai sisi, antara lain:

  • Untuk membentengi anak dari kehancuran moral dan akhlak.
  • Sebagai bentuk syiar agama yang paling menonjol, sehingga suka atau tidak seorang anak harus dipaksa untuk menegakkannya.

Maka di usia sepuluh tahun adalah tahapan yang sangat menentukan baik dan buruknya perilaku anak. Sehingga saat itu dia harus diwajibkan untuk solat.


Sumber: kajian ustaz Basalamah di Youtube.

#Day(2) #OneDayOnePost30HRDC #WritingChallenge30HRDC #30RamadanDalamCerita #bianglalahijrah #RamadandiTengahPandemi

Cerita di Awal Puasa

Pada suatu hari aku mengira, jika keadaan tidak pernah berpihak kepadaku. Kenapa Tuhan tidak pernah memperhatikanku. Dan kenapa kehidupanku jauh dari apa yang aku bayangkan. Jauh dari kata “sempurna” menurut pandanganku. Kenapa semua teman-temanku seperti mendapatkan kemudahan dalam mencapai apa pun. Dari mulai keluarga yang mendukung, tidak memaksa, membiarkan mereka untuk bereksplorasi, dan masih banyak lagi. Sementara aku, tidak sama sekali.

Sudah semenjak lama aku beranggapan seperti itu. Dengan mencari solusi sendiri akan permasalahan dalam hidupku. Dan kemudian, aku sempat terjatuh dalam buaian dunia yang fana ini. Hanya karena aku tidak seperti mereka. Ya, itulah alasan terkuat yang mendasari perbuatanku selama ini. Sampai akhirnya ketika ada seseorang yang sangat aku percayai melebihi apapun, tetapi kemudian dia mengkhianatiku. Dengan atau tanpa alasan, aku pun tidak tahu.

Setelah kejadian itu, aku lebih terperosok lagi. Jauh di dalam jurang yang amat sangat gelap. Yang dipenuhi perasaan benci, iri, balas dendam, dan rasa tidak percaya diri. Dan aku pun semakin menikmati apa yang sedang aku kerjakan kala itu. Aku bisa menghabiskan banyak waktu tanpa menghasilkan apa-apa, selain rasa kepuasan. Bahkan, sifatnya sementara. Memang, aku dapat melupakan masalah yang tengah kuhadapi kala itu. Akan tetapi, tidak benar-benar membuatku terbebas.

Pada penghujung semester, ada suatu kejadian yang membuatku tidak terima awalnya. Aku memaki, membela apa yang aku anggap “baik” selama ini, menjelek-jelekkan mereka yang tidak sependapat denganku. Sampai akhirnya aku benar-benar dikuasai kemarahan. Tidak terima. Dan di saat itulah entah bagaimana caranya, aku sangat ingin asalan di balik pertentangan mereka. Dan dari sumber yang aku abaikan awalnya, aku menemukan semua jawaban atas kenapa pertentangan itu terjadi. Seketika itu juga aku berpikir, apakah selama ini aku tersesat dan tidak menyadarinya? Oh my God!

Syahdan, perlahan aku pun melepaskan semua yang membebaniku. Yang mencegahku untuk merasakan embusan angin di permukaan. Aku mencoba untuk meninggalkannya. Walaupun tak dapat dipungkiri jika itu susah. Bahkan ketika aku berhasil melakukan itu, keinginan untuk kembali itu ada. Dan aku harus bisa menolaknya. Terus menolak kenikmatan itu. Kemudian, aku dipertemukan dengan seorang teman yang membantuku untuk keluar dari dalam jurang. Dia membawakan tali untuk menarikku kembali ke atas permukaan. Adapun aku berhasil melakukannya dengan banyak bantuan, bahkan ketika terjatuh pun mereka tidak membiarkannya.

Pada saat malam perenungan. Aku menyadari jika apa yang kulakuan adalah salah. Apa yang aku yakini adalah keliru. Dan apa yang kuinginkan, tidak seharusnya aku menyalakan semuanya. Karena selama ini aku sibuk untuk membenci sampai tidak menyadari jika itu adalah pelajaran dalam hidupku. Aku semakin menyadari, jika setiap kejadian yang selama ini datang menemuiku pasti ada sebab dan akibatnya. Dan terselip pengajaran di dalamnya. Supaya aku tidak mengulangi hal yang sama lagi. Inilah yang dinamakan belajar dari sejarah.

Terlepas dari itu semua, beberapa hari lalu, aku melihat video tentang adanya keluarga yang toxic. Dan ya, itu terjadi padaku. Aku selalu bisa membandingkan keluargaku dengan keluarga temanku. Bahkan ketika keluarga kami sama-sama bermasalah. Aku masih menemukan cela untuk membela keadaanku. Dalam video itu menjelaskan, jika keluarga toxic itu bukan kesalahan seorang anak. Sebab, tidak ada sekolah yang mengajarkan bagaimana cara menjadi orang tua yang baik. Karena itu pula, aku jadi mengingat film yang pernah kutonton sebelumnya. Tepat ketika seorang gadis galau karena pacarnya terpaksa menikah dengan kakaknya sendiri. Hanya karena sebuah kesalah pahaman. Gadis itu marah dan kecewa terhadap ayahnya. Kemudian ayahnya berkata, “untuk menjadi prajurit yang baik itu ada sekolahnya, tetapi menjadi ayah yang baik tidak ada sekolahnya”.

Semua kalimat yang awalnya tidak menyentilku sama sekali, entah kenapa sekarang aku membenarkan ucapan itu. Perihal keadaan keluargaku selama ini dan semua yang terjadi padaku, itu memang bukan atas kesalahanku. Sebab, apa yang aku anggap baik bum tentu baik di hadapan Tuhan. Dan apa yang aku anggap buruk belum tentu buruk di hadapan-Nya. Jadi tetap semangat. Ingat, bahwa semua kejadian pasti ada hikmahnya.

#Day1 # OneDayOnePost30HRDC #WritingChallenge30HRDC #30HariRamadanDalamCerita #BianglalaHijrah #RamadandiTengahPandemi

Permintaan Terakhir Ibu

Suatu hari aku bertanya pada ibuku, “bu, boleh tidak jika aku bekerja di toko saja?” Kemudian ibuku menoleh ke arahku sambil mengerutkan dahinya seolah tak percaya. Karena ibuku selalu percaya, jika bekerja di toko adalah pilihan yang buruk dan tidak akan mampu membiayai kehidupan kami. Maka ibu selalu menyarankanku untuk bekerja di pabrik-pabrik besar, yang sudah pasti terjamin. Akan tetapi, ibuku tidak pernah berpikir bagaimana kerasnya jadi buruh itu. Sebab, yang dia yakini adalah kerja di pabrik bisa membuatmu “bahagia”.

Aku pun menuruti perintah ibuku. Sebab aku masih ingat kata ustaz waktu ngaji: surga ada di telapak kaki ibu, kalau ingin sukses ya bahagiakan ibumu. Dan jangan lupa bahwa ridho Allah terletak pada ridho ibumu. Jadi, jika ibumu tidak ridho maka Allah juga sama.

Tibalah di hari pertama aku bekerja, semua masih berjalan dengan semestinya. Aku berkenalan dengan teman-teman satu bagian. Mereka datang dari kota yang berbeda-beda. Aku masih ingat, mereka datang jauh-jauh kerja di sini itu untuk mengadu nasib. Sebab, UMR di daerah mereka sangat rendah.

Dalam satu produk, kita dipisahkan dalam berbagai bagian. Ada yang di pembuatan, pengemasan, sampai pengecekan. Semua dikerjakan bersama, tidak peduli laki-laki atau perempuan. Tidak ada pengecualian, bahkan untuk ibu hamil sekali pun. Paling hanya tidak boleh mengerjakan yang berat-berat dulu. Namun, apa yang bisa kita perbuat. Minta lebih juga dipecat, kalau tidak nurut ya dipecat, bahkan bisa dikatakan jadi buruh itu gampang-gampang susah. Asalkan nurut semuanya beres. Entah nurut yang seperti apa..

Seperti hari itu, ketika salah satu mesin rusak dan harus memanggil mekanik untuk membetulkannya. Aku yang memang ditugaskan untuk menimbang kala itu kerepotan, sebab banyak sekali yang tidak layak dikemas. Akhirnya aku mencoba patuh kepada peraturan yang ada dan malah mendapatkan teguran dari beberapa senior.

“Mbak, kalau kayak gini caranya enggak akan dapat hasil sesuai target. Mbak mau ya kalau gaji kita harus dipotong karena ini! Udah lolosin aja yang penting jangan sampai ketahuan!”

Aku menghela napas kasar dan mulai membatin. Membatin banyak hal, mempertanyakan banyak hal, terus berkata kenapa dan bagaimana. Sebab, di satu sisi ini melanggar aturan, tetapi di sisi lain omongan senior itu ada benarnya. Resah aku dibuatnya. Tak urung juga aku melakukan apa yang dikatakan seniorku. Meloloskan semuanya dan jika ada pengawas, menimbang dengan benar. Jangan dikira aku tidak takut melakukan itu. Aku takut sekali, tetapi apa yang bisa aku lakukan. Aku hanya anak baru yang ingin cari uang dan membahagiakan orangtua.

Kejadian seperti itu sering kali terjadi, tidak hanya sekali itu saja. Kadang kami, para buruh harus menganggur, lontang-lantung tanpa arah ketika mesin mulai rewel. Dan mekanik butuh waktu berjam-jam untuk memperbaikinya. Bahkan bisa jadi tidak bisa dibetulkan sama sekali. Dan harus menunggu seharian, kadang kami sampai diliburkan. Yang akhirnya gaji pun tidak sampai UMR. Kalau para senior mah enak, mereka bisa dipindahkan di bagian yang lain. Nah kalau aku yang anak baru ini diliburkan.

Ya begitulah lika-liku buruh pabrik. Kerjanya ya hanya nurut. Kalau enggak gitu ya kena marah. Kita harus banyak omong biar tidak dikata individualis. Ngomong enggak penting pun, ya tetap akan didengar. Gibah salah satunya, itu adalah hal yang sangat dinanti-nanti atau bisa jadi sangat dirindukan. Ini hanya pendapatku saja, karena aku merasa lingkungan pabrik tidak cocok untukku.

Aku adalah seorang yang tidak begitu menyukai keramaian dan tidak juga kesenyapan. Cukup sedikit orang. Aku lebih nyaman berada di perpustakan ketimbang di tempat bermain. Aku lebih suka di rumah dari pada harus ke pantai. Aku pun lebih suka sedikit bicara, tetapi ada gunanya dari pada banyak omong, tetapi kosong. Iya, aku serumit itu jika kalian berpikiran begitu. Akan tetapi, aku memang lebih nyaman seperti itu. Faktor yang mendasarinya adalah aku memang tidak pandai bergaul.

Kemudian, menjelang tengah malam. Aku telah berpakaian rapi. Aku menunggu jemputan di teras rumah. Malam itu adalah pertama kalinya aku dijadwalkan shift malam. Tidak lama kemudian jumputanku datang. Aku kembali ke dalam untuk berpamitan. Setelah itu aku menghampirinya dan mengambil helm yang disodorkannya, kemudian memakainya. Aku menaiki jok motornya dan kami segera berangkat. Dan aku baru sadar jika udara pada malam hari sedingin ini. Padahal aku sudah menggenakan jaket, tetapi sepertinya tidak memberi efek hangat.

Sesampainya di pabrik semuanya masih terlihat baik-baik saja, sepertinya. Aku hanya tidak merasa yakin saja, sebab kepalaku mulai berputar. Aku tak mengindahkannya dan memakai atribut kerja untuk menghindari dari kecelakaan kerja. Aku memasuki tempat kerjaku dan bertemu teman-temanku. Beberapa jam kemudian, aku merasa perutku tidak enak. Aku ingin muntah, tetapi tidak bisa. Rasanya perut ini seperti dikocok tanpa henti. Bahkan bau produk pun membuatku mual. Sampai temanku bertanya apakah aku tengah sakit, sebab wajahku pucat. Aku pun menggeleng, tetapi kemudian aku merasa ada sesuatu yang ingin keluar. Akhirnya aku izin untuk ke kamar mandi.

Aku berlari, tak mengindahkan orang-orang yang menyapaku. Sialan, baru pertama kali aku shift malam sudah begini. Aku merutuki diriku. Sesampainya di kamar mandi, semua yang ada di perutku keluar tanpa henti. Dari mulut, hidung, bahkan tenggorokanku sampai sakit, dan air mataku tanpa sengaja keluar. Segininya, aku tak pernah berpikir ini akan terjadi. Lemas. Aku tidak kuat berjalan. Dan ketika aku keluar dari kamar mandi, kulihat Kepala Bagianku sudah menunggu.

“Kamu sakit?” Terdengar dari nada bicaranya, dia terlihat cemas sekali.

“Saya tadi muntah–” belum selesai aku mengutarakannya perutku mual lagi dan aku langsung masuk kamar mandi lagi. Dan muntah lagi.

“Saya panggilkan ambulans ya, supaya ngangkut kamu untuk ke klinik. Kamu tunggu di sini sebentar, sekalian saya mau urus surat izin kamu dulu.” Aku hanya mengangguk tanpa menoleh ke arahnya.

Sungguh aku kacau sekali. Lemas. Hanya itu. Setelah aku rasa semua isi perutku keluar, aku pun keluar dari kamar mandi dan terduduk di lantai sambil menunggu ambulans. Aku tidak kuat berdiri rasanya. Beberapa menit kemudian, Kepala Bagianku datang lagi. Rupanya ambulans sudah datang dan siap mengangkutku.

“O iya, besok kamu enggak usah kerja dulu. Saya juga sudah ngizinkan kamu. Nanti kalau masih kurang sehat minta dijemput ya. Oke, saya harus balik kerja dulu. Kamu baik-baik ya..” Tak kuasa untuk menjawab, aku hanya mengangguk-angguk saja. Setelah menitipkanku pada sopir ambulans, Kepala Bagianku pun kembali pada tugasnya.

Aku memilih meliburkan diri sampai tubuhku benar-benar pulih. Aku pun mengakatakan hal yang sama kepada ibuku, jika aku muntah-muntah di tempat kerja. Dan ibuku hanya menyarankan untuk meminum obat masuk angin dan mengeroki punggungku. Ternyata ekspektasiku terlalu tinggi.

Berminggu-minggu kemudian, setiap kali shift malam, aku benar-benar ambruk tak berdaya. Lemas. Puncaknya pada pertengahan kontrak kerjaku. Saat itu aku tengah berada di rumah temanku, aku sengaja di sana semenjak sore. Pasalnya aku memang hendak nebeng dengannya saja. Orang yang biasa menjemputku sedang di luar kota.

Sungguh, malam ini aku malas sekali bekerja. Lebih malas dari malam-malam sebelumnya. Rasanya aku ingin tidur saja dan melewatkan kerjaku sampai pagi. Aku merasakan wajahku memanas, seperti saat doi menyetakan perasaannya. Akan tetapi, ini lebih mendebarkan dan sangat tidak enak. Temanku melihat gelagatku yang aneh dan segera menghampiriku. Tanpa diminta dia langsung memegang keningku dan terkaget. Dia berkata sambil teriak, malah lebih terkesan marah. Katanya, badanku panas sekali. Dia pun mengambil gawainya dan pergi ke luar. Seperti mencoba menghubungi seseorang.

Selepas kepergian temanku, aku kembali meringkuk di atas kasur. Perlahan memejamkan mata dan tertidur. Beberapa menit kemudian, kurasa, temanku menggoyangkan tubuhku perlahan sampai aku membuka mata. Sorot matanya menandakan kekhawatiran mendalam. Apakah dia kasihan kepadaku? Ah bodo amatlah, saking lemasnya aku tidak mau memikirkan hal tersebut. Pernyataannya membuatku senang, aku disuruh libur dulu sampai kondisiku benar-benar memungkinkan untuk bekerja. Aku sih iya-iya saja dan kembali tertidur, tetapi sebelum itu dia menyuruhku untuk minum obat.

Keesokan harinya ketika dia pulang kerja. Dan keadaanku sudah agak lebih baik dari kemarin. Dia mengantarkanku pulang. Aku mengatakan hal yang sama kepada ibuku, setiap kali shift malam, jika aku sakit. Dan ibuku selalu berkata sama, bahwa aku sedang masuk angin. Dikasih tolak angin saja pasti akan sembuh. Lagi-lagi ekspektasiku terlalu tinggi.

Sudah tiga bulan aku bekerja dan hari ini adalah keputusannya, apakah aku akan dibutuhkan lagi atau tidak. Aku dan teman-teman menunggu dengan miris di depan ruangan HRD. Bagaimana ini.. Aku memainkan tanganku dengan gusar, bahkan mondar-mandir tak tentu arah. Dan ketika namaku terpanggil, aku langsung masuk ke dalam. Duduk di kursi yang sudah disediakan.

Pernyataan HRD membuatku tercengang, membisu, aku tidak tahu harus bagaimana. Seketika itu juga aku lemas. Aku kembali menyalahkan ekspektasiku yang terlalu tinggi. Lalu dia menyodorkan sebuah kertas, yang bagian atas sendiri bertuliskan “perpanjangan kontrak kerja” dengan sangat jelas. Aku menghela napas, aku sudah bertekad. Aku mengembalikan surat pernyataan itu tanpa membubuhkan tanda tanganku. Menggeleng pelan seraya berkata, “maaf saya tidak bisa..” dan menyebutkan pelbagai alasan sebagai penguat. Tampak di wajah sang HRD teramat kecewa mendengar keputusanku. Dengan sangat terpaksa dia tersenyum, menjabat tanganku, dan mengangguk setuju.

Teman-temanku ternyata sudah menunggu di tempat yang sama. Mereka menungguku bicara. Dan aku mengatakan jika aku sudah tidak bisa melanjutkannya lagi. Dari wajah mereka bisa kupastikan, bahwa mereka sangat kecewa. Menyayangkan hal demikian. Tidak sepertiku yang sangat puas. Selang beberapa bulan, setelah keputusanku. Aku mendengar kabar dari teman-temanku yang terpilih untuk melanjutkan kontrak. Katanya, posisi mereka terancam, sebab akan dipekerjakan mesin robot. Dan teman-temanku yang hanya lulusan SMA, terpaksa harus dirumahkan.

Sementara aku di sini, sudah bekerja. Ya walaupun hanya menjaga stand makanan, tetapi aku sangat menikmatinya. Lebih dari apa yang aku pikirkan, kalau bicara gaji memang jauh dari apa yang aku dapatkan selama bekerja di pabrik. Walaupun demikian, menjaga stand tidak banyak tekanan dan yang terpenting, tidak banyak orang. Paling hanya saat pembeli mulai membludak di akhir pekan. Saat-saat itulah aku harus bekerja ekstra, kalau tidak pasti akan dapat masalah. Setidaknya aku tidak harus kerja shift malam.

Dan ibuku, terus saja memintaku untuk mencari pekerjaan yang lebih layak lagi. Katanya, menjaga stand tidak membuatku bahagia. Hidup dengan serba kekurangan, karena gaji juga pas-pasan, hanya bisa memenuhi kebutuhanku saja. Padahal setiap kali gajian, ibuku selalu kujatah. Tak pernah absen. Iya sih, kalau dipikir-pikir memang sedikit sekali gajiku. Awalnya aku juga kaget, menerima gaji yang jauh di bawah dibandingkan gajiku kala di pabrik. Akan tetapi, lama-kelamaan aku pun terbiasa dan aku berharap ibuku juga akan terbiasa.

Syahdan, sebetulnya sebelum bekerja di stand, aku sempat ditawari teman sekolahku untuk melamar di tempat kerjanya. Berkali-kali pun ibuku melarang dengan pelbagai alasan yang aku tak mengerti. Karena ibu sangat yakin, aku bahagia jika bekerja di pabrik dan mendapatkan banyak uang. Namun, ibuku melupakan satu hal, untuk apa punya banyak uang jika sakit-sakitan. Namun sepertinya, ibuku tidak memahami hal seperti itu. Dan jikalau ibuku tetap seperti itu, memaksaku untuk bekerja di pabrik. Maka, aku juga akan tetap seperti ini, tidak mau melamar ke tempat lain. Biarlah gajiku pas-pasan, setidaknya itu mengajarkanku untuk tidak boros. Bukankah, setiap kejadian selalu ada hikmahnya?

Terjadi Sesuatu..

Beberapa minggu yang lalu, aku telah menghilang dari dunia daring. Tidak pernah sengaja ingin aku lakukan sebetulnya. Alasan utamanya dikarenakan kuota internet yang tak mampu kubeli. Oleh sebab itu, aku tak menyelesaikan challenge bersenandikaku yang diselenggarakan Mazaya Publishing House.

Dalam beberapa minggu itu, aku bingung, harus kuapakan gawai ini. Seperti tidak punya tujuan. Akhirnya, aku mulai dengan mencoba melihat ulang beberapa video yang berhasil kuunduh dulu. Kemudian, setelah semua kulihat, aku beralih mendengarkan lagu yang kupunya–kebanyakan yang aku dapatkan dari sebuah grup kepenulisan, karena koleksi laguku sudah lama kuhapus. Bahkan yang awalnya aku tidak begitu menyukai lagu-lagu itu, perlahan aku mulai suka. Sebab, aku masih belum tahu mau kuapakan gawai ini.

Dua hari berlalu. Aku masih dalam kebingungan. Rasanya aku ingin membaca, kucoba untuk membaca beberapa novel yang aku punya. Ternyata, aku kehilangan fokusku. Alhasil novel itu kututup kembali. Aku menginginkan sesuatu, tetapi entah apa. Akhirnya aku membuka aplikasi wattpad dan aku menemukan salah satu cerita yang aku simpan dari dulu. Sebetulnya aku tak suka, tetapi apa boleh buat. Aku membacanya perlahan. Sampai, aku mengingat sesuatu. Sesuatu yang sulit untuk kujelaskan.

Di suatu malam. Entah dari mana muncul perasaan ini, rasanya takut sekali. Aku tidak tahu kenapa..bahkan aku kembali menghidupkan lampu kamarku dan mencoba untuk tidur dengan lampu yang masih menyala, walau sulit. Keesokan harinya, ketika aku pulang dari berjualan. Aku melihat semua koleksi bukuku dan mataku tertuju pada sebuah buku nonfiksi, yang berjudul #pernahtenggelam. Aku membaca buku itu, lagi.

Tanpa aku sadar, rasa takutku perlahan memudar dan beralih pada keinginan kuat untuk berubah. Berubah menjadi apa tepatnya..aku bahkan belum tahu. Ada tekad yang sangat kuat di hatiku. Niat. Itulah yang aku rasakan. Di sela-sela aku membaca buku itu, aku kembali teringat suatu hal yang tidak seharusnya kulakukan. Bahkan jika hal itu adalah yang sangat aku inginkan. Dan aku ingin melepaskannya. Perlahan. Namun pasti!

Sudah habis kubaca buku itu. Niat awalnya aku akan kembali menyelesaikan baca novelku yang terbengkalai. Namun, yang terjadi malah, aku tetap kehilangan fokusku. Hingga akhirnya aku mengambil buku nonfiksi, judulnya Press Our Syahwat. Aku membaca buku itu, lagi. Kemudian setelah buku itu habis kubaca. Aku mantap ingin membaca novel, tetapi bukan novel yang terbengkalai itu. Melainkan novel School Scandal. Masih berhubungan dengan religi. Dan lagi-lagi aku membaca buku yang pernah kubaca sebelumnya.

Wow..aku ini kenapa sebetulnya? Aku pun bingung.

Jadi begini, beberapa bulan terakhir, tahun 2019 sampai awal 2020. Aku merasa bahwa diriku kurang produktif dan aku ingin tahu apa sebabnya. Maka kucari-carilah alasan di balik itu semua, entah dari faktor internal ataupun eksternal. Sampai ketika aku menyadari efek yang timbul dari apa yang telah kuperbuat selama ini. Setiap malamnya. Dan aku sangat yakin itulah sebabnya. Kenapa? Karena menurut kesehatan dan agama hal itu tidak dianjurkan untuk dilakukan. Sebab, dapat membuat kerusakan pada jaringan otak pelakunya.

Syahdan, aku berusaha mengembalikan diriku pada dunia yang seharusnya. Bukan pada apa yang aku inginkan dan harapkan. Walaupun itu wajar, tetapi jika berlebihan juga akan tidak baik. Maka, aku selalu berkata pada diriku untuk melakukan apa yang aku butuhkan bukan yang aku inginkan.

Aku dan Ekspektasiku

Aku senang ketika dia mengajakku keluar untuk pertama kalinya. Bukan dinner, pun bukan kencan, tetapi yang pasti aku suka sekali. Dia membuatku benar-benar senang, sampai ketika dia mempertanyakan pesananku. Katanya makanan yang aku pesan dapat dibuat sendiri di rumah.

Di kafe Senja, dia mengajakku ke sana. Alasannya cukup sederhana. Pasalnya kafe itu memang baru buka dan untuk itu dia mengajakku ke sana sebab pihak kafe sedang mengadakan buy 1 get 1 untuk menu-menu tertentu.

Selera. Untuk makanan, kami memang bertolak belakang. Aku suka es krim dia suka es teler. Aku suka semangka dia suka melon. Aku lebih suka es jeruk dia milih kopi. Hadeuh, itulah yang selalu menimbulkan perdebatan kecil kami. Walaupun seperti itu, hubungan kami sampai sekarang berjalan dengan baik. Ya, bisa dibilang “kerikil” itu mengganggu, tetapi kami masih bisa melewatinya.

Pramusaji datang. Memberikan daftar menu kepada kami. Setelah membuka lembar demi lembar, bahkan bisa dibilang sampai akhir. Akhirnya aku memutuskan untuk pesan ramen dan es jeruk. Sementara dia pesan makanan berdiskon. Katanya lebih menghemat saja. Dan di sinilah perdebatan kecil kami dimulai.

“Loh aku enggak maksain kamu. Terserah mau pesan apa, yang penting jangan ramen. Kamu tahu kan kalau ramen itu hanya mi.”

“Iya, tapi.. kan..”

“Kita bisa buat itu di rumah. Atau kamu bisa pilih menu seperti yang aku pesan.”

Dalam hatiku berkata, ini mah sama saja kamu memaksaku. Cuman caramu saja sedikit halus, tetapi tajam.

“Ayo lah, sekali ini saja. Lagi pula aku ingin sekali makan ramen. Entah kapan kali terakhir aku makan masakan Jepang itu. Aku mohon!”

Dan akhirnya dia mengiyakan permintaanku. Aku senang. Setelah beberapa lama pesanan kami pun tiba.

Pertama aku menyendok kuah ramen itu. Kunikmati uap serta bau masakan itu dengan khidmat. Aku senang sekali. Aku rindu. Saat aku hendak menyeruput kuah ramen, aku melihat dia menatapku dengan saksama.

“Kamu kenapa? Makananmu enggak enak?”

Dia menggeleng. Kemudian melanjutkan makannya dengan entahlah, seperti orang yang dipaksa makan. Aku bertanya lagi. Pertanyaan yang sama. Jawabannya pun sama, dia hanya menggeleng. Akhirnya aku mengesampingkan ramenku. Beralih menatapnya, bertanya dengan lembut dan sabar. Hatinya terketuk, dia pun menjawab, tetapi suaranya sangat lirih. Sudah seperti orang berbisik.

Dapat kuperhatikan dia tersenyum malu. Aku malah bingung dibuatnya, bahkan terlintas di pikuranku: Apakah dia gila? Namun, sesegera mungkin aku menepis itu. Tangannya menununjuk ke arahku, sebenarnya tepat ke arah pesananku. Aku menunjuk es. Dia menggeleng. Duh aku jengkel sekali. Tanpa sadar aku menggebrak meja. Dan bisa kalian bayangkan semua mata tertuju padaku. Dia tersenyum, mengejekku.

“Bicaralah!”

“Ramen.”

“Iya?”

“Aku ingin..”

“Ya tinggal pesan saja.”

“Tidak perlu.”

“Terus?”

“Kita tukeran tempat duduk saja.”

Seperti katanya. Kita bertukar tempat duduk. Daann, tidak dengan makanan. Baru saja aku mendaratkan pantatku di kursi, tanpa permisi dia langsung memakan ramenku dengan rakus. Aku hanya melongo saja. Kami tidak bicara apa-apa setelah itu. Aku, ya aku terpaksa makan makanannya. Setelah semua selesai, dia mengelap mulutnya dengan tisu. Berkata bahwa dia sudah kenyang dan puas.

Sorry. Namun ramenmu enak kok. Jadi kamu tidak salah pesan. O iya, untuk bonus makananku tadi jangan kamu bawa pulang. Sebab itu sebenarnya titipan mbakku saja. Jadi, ini atas perintah mbakku untuk mengajakmu pergi ke kafe. Sebab mbakku malas, katanya.”

Sialan. Aku pergi begitu saja meninggalkan dia yang sibuk membereskan makanan gratisnya. Tanpa pamit aku berjalan menjahui parkiran. Aku tidak menunggunya sebab aku terlalu jengkel. Bahkan makanannya, o bukan itu sudah menjadi makananku belum habis betul. Aku merutuki ekspektasiku sendiri.

Akhir Dari Segalanya

Kenapa Tuhan seakan takpernah membela kami. Menciptakan kami, tetapi di lain sisi takpernah mencegah kami dibunuh tanpa henti. Kami, sebanyak apa pun itu tetap terbunuh tanpa alasan pasti. Rasanya ingin sekali aku memberontak. Atau sebetulnya aku telah mengingkari takdir Tuhan. Namun, apalah dayaku yang kecil dan dipandang remeh oleh mata-mata takpunya hati. Padahal aku selalu berdoa, agar Tuhan memberkati hidup kami.

Di tempat tinggal kami yang bobrok. Atau bisa dibilang taklayak huni. Kami senantiasa bersyukur kepada Tuhan yang maha Esa. Kami takpernah mengeluh, walaupun sekali keluar dan mencari makan selalu terbunuh. Takpernah sekali pun dalam hati kami menaruh kebencian yang teramat dalam. Sebab, kami memang kecil.

Aku selalu ingat cerita leluhur kami. Yang selalu menantang maut hanya untuk mencari makan. Aku bangga, tubuh kecil ini membawa berkah bagi kami. Melahirkan jiwa-jiwa baru yang terus berusaha dalam takdir yang telah ditentukan. Bahkan, di masa hidup kami yang takpanjang, para orangtua akan terus berjuang di medan perang.

Memang, banyak orang yang takmenginginkan kami hidup di bumi. Padahal, kami hanya menjalankan apa perintah Tuhan kami. Terus menjalankan rantai kehidupan. Maka jika kami dimusnahkan begitu saja, apakah rantai kehidupan ini tidak jomplang? Namun kami bisa apa, kami hanya makhluk kecil yang dianggap pengganggu oleh orang-orang.

Kata mereka kami adalah sumber penyakit. Padahal sejatinya, merekalah yang mengundang kami tanpa sadar. Dalam genangan air ini, kehidupan baru dimulai. Semua keturunan dilahirkan di tempat ini. Dalam gentong-gentong yang takpernah di tutup. Dalam air-air yang taksengaja terkumpul karena turunnya hujan. Di situlah tempat tinggal kami.

Suatu hari aku melihat mereka membuat jebakan untuk kami. Sebuah tempat yang begitu gelap, dan di saat kami menghampiri tempat itu, begitu cepat, dan beberapa dari kami pun tumbang. Aku begitu kesal, mereka mengundang kami, mereka membunuh kami. Lalu untuk apa mereka membiarkan begitu banyak air menggenang di tempat mereka. Untuk apa mereka memberikan tempat eksklusif untuk kami tinggal. Cukup, aku akan balas kalian malam ini!

***

Sial! Aku terganggu. Suara ini seakan takmau berhenti. Padahal sudah kupasang banyak sekali ranjau dan takmempan sedikit pun. Diam-diam aku memperhatikan satu makhluk. Perlahan tapi pasti dia menusukkan jarumnya ke kulitku. Dan satu tepukan tangan.. dia berhasil kulumpuhkan. Bahagia sekali rasanya dapat balas dendam.

Amor dan Bahasa: Dipisah atau Digabung

Pernah tidak kalian berpikir jika penulisan kata di mana dalam bahasa Indonesia dan Inggris itu berbeda? Jika pernah, wah hebat sekali. Aku bahkan baru mengetahuinya hari ini, ketika aku melempar sebuah pertanyaan pada ruang diskusi. Sebenarnya aku sudah lama mempertanyakan kata ini. Hanya saja aku masih terlalu asyik untuk menguliknya sendiri. Sampai pada suatu saat aku mulai kebingungan. Dan akhirnya tujuan terakhir adalah.. bertanya.

Aku mempertanyakan perihal penulisan kata di mana yang tepat. Disambung ataukah dipisah, atau bisa jadi penempatannya sesuai kalimat saja. Dan jawabannya adalah dipisah. Karena di mana terdiri dari dua kata, antara di dan mana. Nah untuk bahasa Inggrisnya juga tidak bisa menjadi patokan dalam menulis di mana pada kalimat berbahasa Indonesia. Bingung ya? Oke aku jelaskan lebih detail.

Where dalam bahasa Indonesia dapat diartikan menjadi ke mana, di mana, dan dari mana. Yang artinya where memiliki arti mana bukan di mana. Nah, hal ini sering luput dari pengawasan kita (atau pengawasanku) yang menganggap where adalah di mana (saja).

Kata di mana itu bukan disambung tapi memang terdiri dari dua kata. Di adalah kata depan. Mana adalah kata tanya. Artinya where yang tadinya satu kata dipadankan dengan di mana yang terdiri dari dua kata, sama dengan responsibility yang satu kata dipadankan dengan tanggung jawab yang dua kata.

Fungsi where di bahasa Inggris itu enggak berlaku di bahasa Indonesia. Contoh kalimatnya begini:
I know the place where you kissed him.

Nah kalau dibahasa Indonesiakan terasa sedikit ‘aneh’. Ada lagi contoh kalimat berbahasa Indonesia yang menggunakan di mana sebagai kalimat tengah:
Lemariku sudah lapuk rupanya, di dalamnya ada banyak sekali buku, di mana halaman-halamannya beraroma kenangan.

Namun, sebaiknya kata di mana digunakan pada kalimat tanya. Lagipula jika seandainya kata di mana ini dihilangkan atau diganti pun tak mengubah makna dalam sebuah kalimat. Misalnya:

Datang ke kota di mana kau ada di dalamnya, ketika tiba waktunya pulang, aku justru merasa pergi.
Aku pernah membayangkan sebuah kota, di mana rumah-rumahnya terbuat dari kayu, dan musim-musimnya berbicara dengan suaramu.
Di sebuah bukit, di mana hangat rerumputan menyentuh telapak kaki, aku merasa tak lagi memiliki apa pun, selain hidup.

Dapat diganti menjadi:

Datang ke kota tempat kau berada, ketika tiba waktunya pulang, aku justru merasa pergi.
Aku pernah membayangkan sebuah kota, yang rumah-rumahnya terbuat dari kayu, dan musim-musimnya berbicara dengan suaramu.
Di sebuah bukit, tempat hangat rerumputan menyentuh telapak kaki, aku merasa tak lagi memiliki apa pun, selain hidup.

Catatan: tidak menggunakan kata tanya di dalam kalimat berita.

Oke, semoga teman-teman tercerahkan malam ini perihal penggunaan kata di mana (yang sempat meresahkan hatiku). Seperti sinar mentari di pagi hari yang kilaunya dapat membuat matamu silau. Ya.. semoga bermanfaat, terima kasih.

Sumber grup menulis Se-tema.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai