Perdebatan Batin dan Pikiran

Dulu sebelum belajar menulis dengan baik dan terhindar dari kekeliruan. Aku selalu merasa bahwa tulisanku sudah benar, tapi ternyata tidak semuanya benar. Malah kadang banyak yang keliru arti atau tulisan. Kadang kurangnya satu partikel pun sudah menyesatkan, seperti halnya typo. Contoh sederhana adalah kata karena, aku dulu suka menghilangkan huruf /e/ pada kata ‘karena’ menjadi ‘karna’. Itu sering sekali terjadi. Yang sudah terbit dan beredar pun kadang masih ada yang menggunakan kata ‘karna’ bukan ‘karena’.

Untuk typo ini juga termasuk penyakit dalam sebuah naskah atau cerita bahkan untuk menulis pesan sekalipun. Membalas pesan doi misalnya. Kadang yang ada di pikiran apa, eh yang tertulis apa. Gawat kalau sampai salah arti! Penyelewengan makna pada sebuah tulisan bisa membuat pembaca jadi gelagapan. Entah karena marah atau baper, sebab typo.

Lalu, untuk asal pakai kata yang sudah umum tetapi belum jelas makna dan kegunaannya. Ada yang tahu lagu ini, sorry aku lupa judul serta penyanyinya. Namun yang pasti aku sedikit ingat dengan liriknya.

~Kau acuhkan aku dengan sikapmu
Tak sadarkah kau telah menyakitiku
Lelah hatiku melihatmu..~

Mungkin kelihatannya tidak ada yang keliru. Mari kita cek KBBI saja atau kalau tidak punya buku fisiknya bisa pakai KBBI daring. Sesungguhnya kata acuh itu memiliki arti lain dari yang tertera dalam potongan lirik di atas. Kalau dalam KBBI acuh itu berarti peduli, mengacuhkan itu mempedulikan, diacuhkan yakni dipedulikan. Benar-benar bertolak belakang, bukan? Dulu mungkin karena belum tahu artinya aku santai saja bernyanyi dengan suara lantang. Namun sekarang, sudah menjadi hal lain untukku. Setiap kali mendengar lagu itu diputar dan sampai pada lirik di atas aku selalu tertawa. Dan ngedumel dalam hati: “ini penyanyi sok tahu banget sih. Lah wong acuh itu peduli malah dikaprahin jadi tidak peduli. Hadeh!” (Tepok jidak)

O iya ada lagi, ini aku pun baru tahu saat aku baca koran tepat di artikelnya Daeng Khrisna. Mawas Diri. Pada umumnya orang-orang selalu pakai kata ‘mawas diri’ tetapi apakah itu sudah betul? Dalam artikelnya Daeng bertutur jika itu keliru. Kok bisa? Nah mari sekali lagi cek KBBI! Umumnya mawas diri berarti rendah diri atau introspeksi, akan tetapi arti mawas sendiri adalah orang utan dan sejenisnya. Nah loh, kaget kan? Aku juga sih.

Daeng khrisna menuliskan jika, penulisan yang betul adalah ‘wawas diri’ bukannya ‘mawas diri. Nah ini dia yang jadi perdebatan batinku kali ini. Aku menemukan kata itu dalam postingan instagram seseorang. Sebetulnya aku suka dengan tulisannya, tapi di sisi lain aku kaget saat mengetahui dia pakai ‘mawas diri’ bukannya ‘wawas diri’. Gejolak dalam diriku membara, aku ingin memberitahunya jikalau itu keliru. Namun batinku menolak, “eh dia senior loh. Yakin mau kasih tahu?” Akhirnya nyaliku menciut dan keinginanku seperti diempaskan angin begitu saja.

Aku sering dihadapkan dalam situasi demikian. Kadang aku mampu untuk mengeluarkan isi otakku untuk menyangga apa yang menjadi kekeliruan dalam memaknai kata. Atau baku dan tidak bakunya suatu sabda. Namun jikalau aku dihadapkan dalam situasi seperti tadi.. ya aku mundur perlahan. Tidak untuk ditiru!

Jadi teman-teman, tidak sepatutnya kita beranggapan bahwa bahasa yang paling gampang adalah bahasa Indonesia. Seperti anggapanku waktu sekolah dulu. Kalau kita tidak paham betul dengan arti kata, penggunaan yang baik dan terhindar dari kekeliruan, serta baku tidaknya suatu kata itu sendiri. Jangan asal pakai, mari belajar sama-sama. Jangan anggap remeh, kita orang Indonesia. Mengaku berbahasa satu bahasa Indonesia. Masa memakai kata saja masih keliru.

Tabik.

9 tanggapan untuk “Perdebatan Batin dan Pikiran

  1. Bagus kalau kamu bisa sadar dan awas dengan kesalahan penggunaan istilah dalam bahasa.

    Disukai oleh 1 orang

    1. Iya kak, soalnya aku pernah tertohok sama kutipan dari penulis favoritku, hehe. Dia bilang: ngaku berbahasa Indonesia tetapi enggak paham tentang bahasa Indonesia. Haha, jadi emang harus banyak belajar.

      Suka

  2. Hi, Mbak.
    Wah, Daeng Krisna Pabicara adalah Polisi Bahasa idola saya. Tulisan-tulisan Beliau saya jadikan panduan dan tuntunan untuk menulis dengan menggunakan Bahasa Indonesia yang baik. Saya menyetujui pendapat Mbak Devi yang menyatakan bahwa Bahasa Indonesia itu bukan bahasa yang mudah dipelajari. Rumit!
    Rumit, tapi sangat indah. Itu Bahasa Indonesia.

    Suka

    1. Iya kak Maria betul banget. Saya juga belajarnya lewat tulisan beliau. Lagi pula saya lebih nyaman belajar darinya daripada buka KBBI yang kadang bikin tambah mumet. Haha.

      Disukai oleh 1 orang

      1. Hahahaha, Muanteeeppp

        Lanjutkan, Mbak.

        Disukai oleh 1 orang

  3. Ping-balik: Ganta – Ikatan Kata
  4. Sepertinya Typo itu masalah yang pernah dialami semua orang, semua bisa diperbaiki, Saya mampir disini 😉

    Suka

    1. Silakan! Saya senang ada yang mau mapir di blog saya😊

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web Anda di WordPress.com
Mulai
%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close